Selasa, 23 April 2013

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi di Lombok adalah obyek wisata pantai yang layak menjadi agenda wajib bila sobat sedang berlibur. Pantai ini tak kalah indahnya dibandingkan dengan pantai - pantai di pulau Bali, karena memang pulau Lombok bersebelahan dengan pulau Bali. Pantai Senggigi terkenal dengan pasir putihnya dan kejernihan air lautnya sehingga tak heran bila banyak turis mancanegara yang berkunjung kesana. Dan pantai ini sendiri merupakan pusat pariwisata di lombok, Nusa Tenggara Barat, sehingga banyak sekali fasilitas yang akan kita temui disana tanpa mengurangi keasrian dan keindahan alamnya.
Untuk menuju ke obyek wisata pantai tersebut tidaklah sulit. Bila sobat naik pesawat, tiba di bandara Selaparang Mataram sobat bisa meluncur ke arah barat jaraknya sekitar 8 km dari bandara, setelah kurang lebih 15 menit perjalanan yang berkelok - kelok dengan hembusan angin laut yang lembut sobat sudah sampai disana. Tapi ditengah perjalanan jangan lewatkan sebuah pura yang menjorok ke laut yaitu pura Batu Bolong untuk sobat berfoto - foto ria.
Sesampainya disana sobat akan disuguhkan sebuah pemandangan alam yang begitu mempesona. Pasir putihnya yang bersih dan air laut yang jernih membuat hati kita untuk secepatnya menceburkan diri ke laut. Turis - turis berjejer sedang berjemur di pantai, tak sedikit yang berenang disana membuat sobat melupakan urusan kerja di kantor.
Di pantai ini juga menawarkan beberapa jenis wisata air seperti snorkeling, diving, dan sebagainya. Harga - harga yang ditawarkan cukup lumayan. Dan yang tak boleh sobat tinggalkan adalah melihat matahari terbenam atau sunset di pulau Senggigi ini, begitu menakjubkan. Setelah matahari meninggalkan siang dan berganti dengan malam, kehidupan di pantai ini belum berakhir, alunan musik dan suara bass serta sorak - sorai pengunjung kafe memeriahkan kehidupan malam di pantai ini.

Jadi bila sobat menginginkan liburan yang asyik dan mententramkan jiwa, tak ada salahnya mencoba berwisata di pantai Senggigi ini.

Danau Toba

Danau toba adalah sebuah danau vulkanik yang sejatinya merupakan bekas kawah letusan gunung terbesar di dunia, dengan sebuah pulau di tengahnya yang diberi nama pulau Samosir.

Danau toba memiliki luas 1707 Km persegi atau lebih dari dua kali luas Singapura, terbentuk dari letusan gunung purba raksasa yang menurut beberapa penelitian disaat letusannya sempat merubah iklim dunia dan membawa dunia ke dalam zaman es. Letusan raksasa tersebut hampir memusnahkan manusia di dunia ini. Peninggalan letusan tersebut masih bisa dilihat berupa kaldera terbesar di dunia yang saat ini terisi air menjadi danau Toba. Pulau samosir adalah bagian kaldera yang tidak terendam air, terletak di tengah-tengah danau Toba dan merupakan pusat dari kebudayaan Batak.

Danau toba merupakan salah satu tujuan wisata populer di indonesia, mesti demikian tempat ini sebenarnya tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk anda yang ingin bersantai..

Danau Toba

Untuk mencapai danau Toba, Dari kota Medan anda bisa menuju Parapat dengan lama perjalanan sekitar 5 Jam. Apabila anda tiba di Medan menggunakan pesawat terbang, dari bandara pertama anda harus menuju terminal Bus Amplas menggunakan kendaraan umum No 64 dengan harga Rp. 3000 / Orang. Dari terminal Amplas ambil Bus menuju Parapat dengan tarif sekitar Rp. 22.000 / Orang. Apabila anda ingin lebis simple, anda bisa menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp. 450.000 sudah termasuk driver dan bahan bakar, atau bisa menggunakan Taxi.

Alternatif lain menuju danau Toba ialah dengan menggunakan kereta api. Perjalanan menggunakan kerteta api menuju Pematang Siantar atau Tebing Tinggi menyguhkan pemandangan yang tak akan terlupakan, sangat indah. Dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan ke Parapat dengan menggunakan Taxi.

Ukiran rumah Tradisional Batak

Pemandangan eksotis lain akan anda dapatkan ketika anda menaiki ferry menuju pulau samosir, suasana yang memberikan ketenangan batin. Selama perjalanan anda bisa menikmati jajanan yang banyak dijajakan oleh pedagang asongan yang ramah.

Dari Parapat perjalanan dilanjutkan dengan menaiki perahu / kapal ferry menuju pulau samosir dengan tarif Rp. 7000 / Orang, tujuannya ialah Tuktuk Siodang di pulau Samosir. Tuktuk adalah salah satu tempat yang tepat untuk menikmati danau Toba, di sini juga banyak terdapat hotel & penginapan yang dapat anda gunakan.

Pulau Samosir

Selain menikmati keindahan alam dan danau serta keramahan penduduknya, selama berada di Samosir anda bisa melihat objek wisata lain seperti melihat kuburan batu, Simando, Ambarita (meja batu tempat hukuman tradisional Batak) atau berenang di kolam air panas alam.

Danau Kelimutu (Danau tiga warna)


Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau"Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau"Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakantempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya area Flores memang menyimpang potensi wisata yang sangat menarik. Selain Pulau Komodo, salah satu objek wisata andalan lainnya dari Flores adalah Gunung Kelimutu beserta Danau Tiga Warna di puncaknya.
Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat, Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Koservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Untuk mencapai gunung Kelimutu anda dapat melakukan perjalanan udara dari Bali menuju Ende atau Maumere. Kedua kota tersebut juga dapat ditempuh melalui udara dari kota Kupang. Dari kedua kota tersebut perjalanan dapat dilanjutkan dengan kendaraan sewaan ke Kampung Moni sekitar 3 jam perjalanan. Kampung Moni adalah kampung terdekat dengan kawasan Kelimutu.
Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan. Itu sebabnya para wisatawan biasanya bermalam di Kampung Moni dan baru berangkat ke Gunung Kelimutu dini hari. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.
Untuk menginap di Kampung Moni terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dan cottage yang dikelola oleh pemerintah.
Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Warna air dari ketiga danau tersebut berbeda satu sama lain dan selalu berubah dari waktu ke waktu terutama warna air Tiwu Nuwa Muri (duabelas kali perubahan dalam jangka waktu duapuluh lima tahun). Selain disebabkan oleh aktivitas gunung berapi Kelimutu, perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar dana.

Teluk Cendrawasih

Jika anda sudah bosan dengan tempat wisata di pulau Jawa, Bali, Sumatra, dan Lombok, cobalah mengunjungi Papua, propinsi di pulau ujung timur Indonesia yang dulunya bernama Irian Jaya. Di Papua, anda bisa mencoba sensasi luar biasa pesona alam di Taman Nasional Teluk Cendrawasih yg lazim dikenal dengan Teluk Cendrawasih saja.
Teluk Cendrawasih mewakili ekosistem pantai, hutan mangrove, terumbu karang, dan hutan tropika di pulau Papua/Irian Jaya. Teluk Cendrawasih sendiri merupakan taman nasional terluas di Indonesia dengan komposisi daratan dan pesisir pantai 0,9%, pulau-pulau 3,8%, terumbu karang 5,5%, dan lautan 89,8%.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih menyimpan 150 jenis species dari 15 famili yang menyebar di tepian pulau-pulau besar dan kecil. Ekosistem terumbu karang dibagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Di Teluk Cendrawasih ini anda bisa melihat berbagai macam karang seperti karang hitam (Antiphates sp.), koloni karang biru (Heliopora coerulea), famili Faviidae dan Pectiniidae, dan berbagai macam karang lunak.
hiu paus jinak teluk cendrawasi
Hiu Paus (Whale Shark) di Teluk Cendrawasih. Foto oleh: kryztof odziomek
Tidak kalah dengan Wakatobi dan Raja Ampat, Taman Nasional Teluk Cendrawasih memiliki berbagai jenis ikan. Tidak kurang dari 209 jenis ikan menghuni kawasan Teluk Cendrawasih, diantaranya adalah damselfish, butterflyfish, parrotfish, angelfish, rabbitfish, dan anemonefish. Ada juga Hiu raksasa yg jinak karena tidak memangsa manusia. Hiu jenis ini namanya Hiu Paus (whale shark), panjangnya bisa mencapai 14 meter namun makannya hanya ikan teri dan gerakannya lambat.
Selain dari keluarga pisces, ada juga jenis moluska seperti keong strombidae (Lambis spp.), keong cowries (Cypraea spp.), triton terompet (Charonia tritonis), keong kerucut (Conus spp.), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Jika anda beruntung, berbagai jenis kura-kura atau penyu bisa ditemukan atau bahkan foto berenang bersama penyu. Penyu yang sering mendarat di daratan taman nasional ini adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).
Dan ikan yang berukuran raksasa di Teluk Cendrawasih, anda bisa melihat paus biru (Balaenoptera musculus), Duyung (Dugong dugon), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu. Mereka sering menampakkan diri di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Ikan-ikan raksasa ini tidak melakukan migrasi seperti paus di Australia atau samudra Atlantik sehingga setiap saat bisa anda temui.

Tempat Wisata menarik lainnya

Selain pesona berbagai jenis ikan di Teluk Cendrawasih, ada goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, gua dalam air dengan kedalaman 30 meter di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa anda jumpai di beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber.
Beberapa pulau yang saying untuk dilewatkan adalah:
  • Pulau Rumberpon, untuk pengamatan burung, penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, dan kerangka pesawat tempur jaman penjajahan Jepang yang jatuh di laut.
  • Pulau Nusrowi, bagus untuk menyelam dan snorkeling, wisata bahari, dan pengamatan satwa.
  • Pulau Mioswaar, terdapat sumber air panas, air terjun, menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya.
  • Pulau Yoop dan perairan Windesi, untuk pengamatan ikan paus dan ikan lumba-lumba.
  • Pulau Roon, untuk pengamatan satwa burung, menyelam dan snorkeling, air terjun, wisata budaya.
Untuk bisa menikmati berbagai keindahan ala mini, waktu berkunjung terbaik adalah saat musim kemarau antara Mei sampai Oktober setiap tahunnya. Anda harus mendapat izin terlebih dahulu dari pengelola atau pemerintah daerah setempat.

Transportasi menuju Teluk Cendrawasih

Berhubung lokasi Teluk Cendrawasih berada di ujung timur Indonesia, bagi anda yang tinggal di Indonesia bagian barat bisa memilih beberapa alternatinf sebagai berikut:
Pesawat terbang: dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang/Makasar, Jayapura, naik pesawat dengan tujuan Biak, dilanjutkan ke Manokwari atau Nabire.
Kapal Laut: dari Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang/Makasar, dan Jayapura naik kapal laut ke Manokwari atau Nabire.
Dari Manokwari ke lokasi Taman Nasional (Pulau Rumberpon) naik longboat sekitar 5,5 jam perjalanan.
Bisa juga dari Manokwari menuju kota kecamatan Ransiki menggunakan mobil sekitar 3 jam perjalan dan dilanjutkan dengan motorboat sekitar 2,5 jam.

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz
Taman Nasional Lorentz -Taman Nasional Lorentz di Papua adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 25.000 km² Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara.
Taman Nasional Lorentz ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.
Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Menuju ke Taman Nasional Lorentz yaitu dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi.
Taman Nasional Lorentz
Taman Nasional Lorentz Papua
Flora dan Fauna Taman Nasional Lorentz
Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.
Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.
Jenis-jenis Tumbuhan terkenal Taman Nasional Lorentz
  • nipah (Nypa fruticans)
  • bakau (Rhizophora apiculata)
  • Pandanus julianettii
  • Colocasia esculenta
  • Avicennia marina
  • Podocarpus pilgeri
  • Nauclea coadunata
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx). Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.

BUNAKEN

peta_bunakenTaman Laut Bunaken masih merupakan objek wisata yang paling menarik di Sulut. Dengan membayar US$ 35 (sekitar Rp 300.000), seorang wisatawan dapat menikmati keindahan taman laut Bunaken yang memang sangat luar biasa.
Biaya sebesar itu sudah termasuk biaya boat pulang pergi, menumpang Catamaran (perahu yang sebagian lantainya terbuat dari kaca) untuk melihat terumbu karang, snorkeling dan makan siang. Bagi wisatawan yang ingin menyelam, biayanya tentu lebih besar karena harus menggunakan peralatan selam seperti tabung gas.
Khusus bagi yang ingin menyelam, ada beberapa agen perjalanan yang menyediakan peralatan untuk menyelam, namun yang ingin menyelam harus memiliki sertifikat selam. Bagi para pemula, mereka akan didampingi seorang instruktur.
Khusus bagi wisatawan asing, menyelam, snorkeling atau hanya melihat terumbu karang menggunakan Catamaran menjadi tujuan utama berkunjung ke Manado. Mengamati terumbu karang yang berwarna-warni sekaligus melihat berbagai jenis ikan yang juga berwarna-warni berenang di antara terumbu karang itu, merupakan perjalanan wisata yang sangat mengasyikkan.
laut-bunakenDengan menggunakan Catamaran kita seolah mengamati akuarium yang berjalan. Kita melihat terumbu karang dengan aneka warna, kemudian pada tempat tertentu ketika Catamaran melintas di atas palung laut yang dangkal atau yang dalam kegelapan akan muncul segerombolan ikan.
Tapi dalam kegelapan yang berlangsung hanya beberapa menit itu, karena Catamaran terus berjalan, kita bisa menyaksikan gerombolan ikan besar dan kecil yang sedang berenang. Bagi yang mengenal berbagai jenis ikan laut, dapat bercerita kepada rekannya jenis ikan apa saja yang terlihat sedang berenang.
Ikan-ikan kecil yang warnanya sangat indah, menjadi pemandangan yang sangat menarik di Bunaken. Semua yang berada dalam pikiran menjadi hilang menyaksikan keindahan alam di Taman Laut Bunaken yang merupakan salah satu taman laut terindah di dunia. Kita tidak akan bosan-bosan melihat pemandangan laut itu, bahkan lupa waktu, jika pemandu wisata tidak mengingatkan bahwa masih ada objek wisata lainnya yang harus dikunjungi di Sulut.
Waruga
Bagi wisatawan yang ingin melihat peninggalan zaman dahulu, di Sulut tepatnya di Desa Sawangan, Kecamatan Air Mandidi, Kabupaten Minahasa dapat mengunjungi pemakaman nenek moyang (Dato) orang Minahasa.
Kuburan yang terbuat dari batu gunung (domato) yang tingginya bervariasi antara setengah meter hingga hampir dua meter itu, sekarang berada di Sawangan setelah dikumpulkan dari berbagai tempat pada tahun 1817. Menurut pemandu wisata yang ada di sana, Mariam, kuburan batu yang dapat dipindah-pindahkan itu merupakan kuburan keluarga yang meninggal sekitar 1.200 tahun yang lalu.
Batu yang tingginya hampir dua meter dengan lebar sekitar setengah meter itu dilobangi. Mayat anggota keluarga yang meninggal dimasukkan dalam posisi duduk ke dalam lubang, yang sebelumnya dialasi dengan piring. Dengan demikian mayat tersebut duduk di atas piring. Baru kemudian ditutup dengan batu yang sebagian diberi ukiran sebagai keterangan apa pekerjaan dari orang yang dikubur di situ ketika masih hidup.
Oleh karena itu, ada yang ditandai dengan ukiran kuda dan rusa yang menjelaskan orang yang dimakamkan di situ selama hidup pekerjaannya berburu binatang. Ada pula ukiran batu penutup Waruga itu menceritakan bahwa yang dikubur di dalamnya adalah seorang hakim. Ada juga ukiran yang menggambarkan orang yang dikubur di situ seorang gembala, bidan dan berbagai jenis kegiatan lainnya.
Hanya saja, dari 144 Waruga yang terkumpul di sana, baru 31 yang teridentifikasi Dato siapa yang dikuburkan di situ, walaupun tulang-belulang mereka sudah tidak ada lagi di dalam kuburan batu itu. Identifikasi dilakukan dengan melihat catatan atau tulisan yang ada di bagian luar dan penutup Waruga.
Waruga menjadi kuburan keluarga karena setiap anggota keluarga yang meninggal, mayatnya dimasukkan ke dalam Waruga yang sama. Hanya saja, sejak berjangkit penyakit cacar di Sulut pada sekitar tahun 1800, pemerintah Belanda yang berkuasa pada saat ini melarang dilakukan penguburan di dalam Waruga, tapi harus dimasukkan ke tanah. Maka sejak saat itu orang yang meninggal tidak dikuburkan di dalam Waruga.
Lokasi Waruga, yang bersebelahan dengan kuburan umum, tidak terawat, padahal di tempat itu ditemukan dua pohon kamboja yang dikatakan penjaga makam sudah berusia lebih dari 100 tahun. Dato yang ada di dalam Waruga yang telah dapat diidentifikasi antara lain Rorimpandey, Mantiri dan Tangkudung.
Menurut Mariam, yang dikubur di dalam Waruga tidak hanya orang Minahasa tetapi juga ada orang Jepang, Spanyol, Belanda, Portugis dan lain-lain, yang dapat dilihat dari catatan di penutup Waruga. Dari peninggalan yang didapat di dalam Waruga ada beberapa piring yang berasal dari Dynasti Ming, Cing dan Sun. Piring-piring itu menjadi tempat mayat itu duduk di dalam Waruga.
Danau Tondano
danau-tondanoBagi pemandu wisata di Sulut, menyanyikan lagu Di Tepi Danau Tondano yang dipopulerkan Vivi Sumanti tahun 1970-an seolah menjadi keharusan. Dalam menceritakan keindahan danau ini, seorang pemandu wisata selalu menyanyikan satu bait dari lagu tersebut.
Mengunjungi Danau Tondano memang mempunyai keasyikan tersendiri. Dengan perjalanan sekitar satu jam dari Kota Manado melalui jalan yang menanjak dan berliku di pegunungan serta hijaunya tanaman palawija, kita dapat tiba di tepi Tondano yang udaranya sejuk.
Banyak ditemukan restoran di sana, yang umumnya berada di atas danau. Hidangan yang tersedia juga bermacam-macam, namun yang paling populer tentu saja ikan mas, mujair dan ikan teri hasil tangkapan atau penangkaran di Danau Tondano. Ikan-ikan ini dapat dimasak dalam berbagai variasi. Ikan mas dan mujair biasanya dibakar, digoreng, diberi sambal rica atau dabu-dabu. Ada juga yang dimasak woku bahkan menjadi masakan asam. Untuk ikan teri disambal atau dibuat seperti rempeyek. Jangan lupa memesan kangkung cah atau rebus atau tumis, karena kangkung dari Danau Tondano ini segar, enak dan batangnya panjang-panjang, bahkan karena kualitasnya memang bagus sudah diekspor ke Singapura.
Dalam perjalanan ke Danau Tondano, bagi yang senang makan, dapat menemukan berbagai restoran yang menyediakan makanan khas Manado. Di Jakarta kita bisa menemukan berbagai rumah makan Manado dengan nama Tinoor, maka di Tinoor (jalan antara Manado – Tomohon) sangat banyak ditemukan restoran Manado yang menyediakan masakan Manado.
Rumah Kayu
Bagi yang ingin memiliki rumah adat Minahasa dari kayu, dapat memesannya kepada para perajin di Desa Pulutan, Kecamatan Remboken. Seorang anak perajin, Boy Tendean, bercerita bahwa rumah kayu yang mereka produksi tidak terbatas dijual di Sulut, tapi pemesanan datang dari Pulau Jawa dan Sumatera.
Harga di tempat perajin untuk ukuran 10×12 meter sekitar Rp 35 juta-Rp 45 juta, bergantung pada jenis kayunya. Lama pembuatan sebuah rumah kayu sekitar dua bulan. Khusus untuk daerah sekitar Manado, mereka siap mengantarkannya ke lokasi dan membangunnya di sana. Biaya tukang yang akan membangun rumah tersebut sepenuhnya menjadi tanggungan perajin. Sedangkan untuk ke luar dari Manado, misalnya ke Pulau Jawa, biaya pengiriman ditanggung pemesan, termasuk ongkos perjalanan tukang yang akan mendirikan rumah kayu tersebut.
Berapa jumlah tukang yang dibutuhkan untuk mempersiapkan sebuah rumah kayu, menurut Boy, antara empat sampai delapan orang. Untuk pengiriman ke luar pulau sebuah rumah kayu ukuran 10×12 meter biasanya digunakan dua kontainer ukuran sedang. Mengenai ukuran dan model rumah kayu yang dibangun semuanya dapat dinegosiasikan antara pembeli dengan perajin.
Berbagai ukuran, model rumah kayu yang berada di Desa Pulutan membuat daerah itu memiliki kekhasan sendiri. Banyak orang yang berkunjung ke sana dan menjadi objek wisata bagi wisatawan. Banyak yang berkunjung hanya untuk melihat-lihat. “Paling tidak dua rumah bisa kami jual setahun. Jika tidak ada pemesanan, kami mengerjakan komponen-komponen rumah yang juga banyak dipesan,” ujar Boy.
Secara turun-temurun, penduduk Desa Pulutan memang bekerja sebagai perajin rumah kayu. Gaji seorang perajin berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 per hari, bergantung pada keahliannya.
Tarsius
Binatang kecil dengan berat 120 gram, tinggi 15 sentimeter, panjang ekornya 20 sentimeter, dengan muka seperti burung hantu, tubuhnya seperti tikus dengan kepala bisa digerakkan memutar 180 derajat dikenal dengan Tarsius (Monyet Mini).
Melihat Tarsius di dalam hutan pada malam hari merupakan salah satu tawaran bagi wisatawan yang berkunjung ke Sulut. Hanya saja wisata untuk melihat Tarsius harus pada malam hari karena binatang primata ini adalah binatang malam. Sekitar pukul 05.00 pagi hari dia akan kembali ke sarangnya sehingga tidak dapat dilihat lagi.
Menurut pemandu wisata, melihat Tarsius membutuhkan waktu yang panjang dengan medan yang cukup berat. Apalagi untuk sampai di hutan tempat Tarsius tersebut diharuskan berjalan kaki sekitar 3 km. Menurut catatan dari kepustakaan, habitat Tarsius berada di hutan Pulau Lembean dan Sangihe, Sulawesi Utara.
Namun sekarang, jika hanya ingin menyaksikan Tarsius, dapat dilihat di Tangkoko Bitung. Seorang penyayang binatang di Bitung menyediakan lahannya untuk memelihara sekitar 40 jenis binatang, termasuk sepasang Tarsius dan sepasang babi rusa. Pengunjung dari dekat dapat melihat sepasang Tarsius yang merupakan binatang primata terkecil di dunia.
Penjaga taman kebun binatang swasta itu, Toku Malohing, mengakui jumlah binatang yang dipelihara di sana sedikit dibandingkan dengan di kebun binatang sebenarnya. Walaupun sedikit, biaya yang harus dikeluarkan setiap hari mencapai Rp 300.000 untuk kebutuhan makan binatang itu.

Pulau Derawan



Pulau Derawan
Indonesia sudah sangat dikenal sebagai negara seribu pulau oleh wisatawan mancanegara. Hal ini menandakan seakan-akan kekayaan wisata di negeri ini tidak akan pernah habis untuk dibahas. Setiap pulaunya memiliki pesona khusus dengan beragam daya tarik yang patut dikunjungi. Salah satu pulau tersebut adalah Pulau Derawan yang merupakan salah satu tempat wisata terindah dengan pesona alam yang beragam.
Bisa dibilang Pulau Derawan adalah surga tropis yang sempurna. Pulau Derawan menyajikan pemandangan pasir pantai yang bewarna putih halus, pohon palem yang melambai-lambai, dan pemandangan laut bewarna hijau hingga biru gelap. Disinilah Anda dapat menemukan 460 jenis karang dan 670 jenis ikan yang siap memanjakan mata Anda.
Kepulauan Derawan terdiri dari 31 pulau. Empat dari 31 pulau-pulau tersebut merupakan pulau yang paling sering dikunjungi para wisatawan, yakni Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Salah satu pulau tersebut merupakan tempat bertelurnya penyu, bersarangnya kura-kura hijau langka, dan penyu sisik. Hal tersebut menjadi sajian keanekaragaman hayati di kepulauan ini.
Pesona Pulau Derawan bukan hanya sebatas itu, hal yang paling menarik dan diminati para wisatawan mancanegara adalah objek wisata bahari, salah satunya yaitu Taman Bawah Laut. Taman Bawah Laut sangat diminati para wisatawan terutama para penyelam kelas dunia. Sajian bawah laut Pulau Derawan bisa dibilang sangat sempurna dengan memperlihatkan kehidupan bawah laut yang luar biasa. Di sana Anda akan temukan kura-kura raksasa, lumba-lumba, ikan pari, ikan duyung, barakuda, ubur-ubur stingless dan ikan Hiu Derawan. Tak heran bila Pulau Derawan dikenal sebagai tujuan wisata menyelam terbaik di dunia.
Pulau Derawan terletak tak jauh dari daratan Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Berau. Bila Anda ingin mengunjungi Kepulauan ini, Anda dapat mengambil penerbangan menuju Balikpapan dengan menggunakan penerbangan dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya atau Denpasar yang bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Dari Balikpapan, Anda masih harus melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Redeb selama satu jam menggunakan transportasi udara dengan jarak tempuh selama 30 menit atau menggunakan transportasi laut dengan jarak tempuh 3 jam perjalanan.